Selasa, 08 Mei 2012

Menyusui Dapat Menurunkan Resiko Darah Tinggi

|0 comments
REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK - Satu lagi hasil penelitian tentang manfaat menyusui dirilis. Berdasarkan penelitian yang dimuat di American Journal of Epidemiology edisi ternayar, para ibu yang menyusui dalam kurun waktu yang disarankan (6 - 12 bulan) memiliki risiko lebih rendah terkena tekanan darah tinggi di kemudian hari.
Penelitian, bagaimanapun, tidak menyimpulkan bahwa menyusui adalah alasan untuk menciptakan tekanan darah yang sehat. Tapi mereka menambah bukti bahwa menyusui mungkin memiliki manfaat tidak hanya bagi bayi, tapi untuk ibu juga.
Secara umum, para ahli merekomendasikan bahwa bayi diberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama mereka, kemudian terus mendapatkan ASI bersama dengan makanan padat sampai mereka berusia satu tahun.
Menyusui bermanfaat  melindungi bayi terhadap penyakit-penyakit umum tertentu, seperti diare dan infeksi telinga bagian tengah. Tapi ada juga beberapa bukti bahwa menyusui dapat menurunkan risiko ibu dari beberapa masalah kesehatan.
Studi telah menemukan bahwa wanita yang menyusui memiliki risiko rendah terkena diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung di kemudian hari - meskipun tidak satupun dari mereka mampu membuktikan hubungan sebab-akibat kedua faktor itu.
Untuk studi baru, peneliti melihat korelasi antara pemberian ASI dan kemudian risiko tekanan darah tinggi. Penelitian ini melibatkan relawan 56 ribu perempuan AS yang memiliki setidaknya satu bayi.
Secara keseluruhan, studi menemukan, wanita yang telah menyusui selama setidaknya enam bulan kurang baru akan mengembangkan tekanan darah tinggi 14 tahun lebih lama ketimbang ibu yang bayinya meminum susu botol.
Hampir 8.900 wanita yang berpartisipasi dalam penelitian secara keseluruhan akhirnya didiagnosa dengan tekanan darah tinggi. Tetapi 22 persen lebih tinggi bagi perempuan yang tidak menyusui anak pertama mereka, dibandingkan wanita yang menyusui secara eksklusif selama enam bulan.
Namun, harus dilihat pula faktor-faktor seperti kebiasaan diet, olahraga, dan merokok.
Tidak ada temuan membuktikan bahwa pemberian ASI memberikan perlindungan jangka panjang terhadap tekanan darah tinggi, kata ketua peneliti, Dr Alison M Stuebe, dari University of North Carolina, Chapel Hill.
"Adalah masuk akal bahwa menyusui memiliki manfaat langsung," kata Stuebe. Penelitian atas hewan telah menemukan bahwa hormon oksitosin, yang terlibat dalam menyusui, memiliki efek langsung pada tekanan darah.
"Perempuan juga cenderung memiliki penurunan tekanan darah jangka pendek  segera setelah menyusui," tambah Stuebe.

Sumber : Yahoo!She
 

Tips Menyusui Tanpa Merubah Bentuk Payudara

|0 comments
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebagai ibu baru, kita terkadang sudah membaca referensi atau browsing informasi tentang kesehatan ibu dan bayi. Namun ketika berhadapan dengan masalah anak, kita merasa tidak mampu mengatasinya.
Mungkin diantara kita ada yang merasa bersalah, kurang cantik, atau kesakitan waktu memberikan ASI. Tetapi, hal tersebut tak perlu dirisaukan. Karena sebagai Ibu "baru" bukanlah sebuah "bencana".
Jika kita membutuhkan orang lain, kenapa tidak? Kita perlu berbagi dengan orang yang berpengalaman, orangtua atau dokter. Kali ini dr. Ariani Dewi Widodo, SpA akan memberikan informasi seputar menyusui.
- Menyusui sakit
Bagi kita, calon ibu baru pasti sudah mengumpulkan informasi tentang menyusui. Tetapi bila kita merasa sakit saat menyusui, kita perlu berkonsultasi di klinik tumbuh kembang. Karena di klinik tersebut, kita akan diberikan informasi tentang kesehatan ibu dan bayi.
- Payudara kendor
Menyusui membuat payudara kendor? Tak perlu khawatir, karena setelah menyusui kita dapat melakukan olahraga guna mengencangkannya. Lalu jaga berat badan agar tetap stabil, perbanyak makan buah dan sayur, serta memilih bra yang tepat dapat membantu mengencangkan payudara.
- Tidak boleh menyusui ketika ibu sakit
Menurut Ariani, pernyataan ini hanya mitos. Ketika ibu menyusui sakit, ibu tetap boleh memberikan ASI kepada bayi. Bayi tidak akan tertular, karena secara otomatis mereka membentuk antibodi untuk melindungi tubuhnya.
- Merasa bersalah karena bekerja
Sehagai ibu, kita ingin memberikan yang terbaik pada anak, salah satunya ASI eksklusif. Namun ada beberapa kendala bagi kita yang bekerja, kita beranggapan tidak dapat memberikan ASI dan merasa bersalah karenanya. Padahal kita terap bisa memberikan ASI dengan cara memompa dan disimpan di lemari pendingin atau kita dapat manfaatkan delivery ASI dari kantor ke rumah, yang saat ini tersedia jasanya di kota-kota besar.
- Susu formula rendah gula
Jika anak kita diberikan susu formula, tetapi ia tidak cocok atau alergi dengan kandungan gula susu tersebut, kita dapat memberikannya susu formula rendah gula. Tetapi bagaimana pun juga, ASI merupakan makanan yang paling baik bagi bayi. Selama kita masih memberikan ASI dan bayi pun tidak ada masalah, produksi ASI kita akan lancar. Pasalnya dengan memberikan ASI, dapat membentuk kedekatan antara ibu dan anak. Anak juga merasakan kehangatan dalam dekapan sang ibu. (Agustina N.R)

Sumber :  Yahoo!She
 

Selasa, 01 Mei 2012

Strees Saat Hamil Sebabkan Bayi Kekurangan Zat Besi

|0 comments
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Bayi yang lahir dari ibu yang mengalami stres saat kehamilan tiga bulan pertama berisiko kekurangan zat besi, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan fisik dan mental.
Demikian studi yang dipaparkan dalam pertemuan Masyarakat Akademi Pediatri di Boston, Ahad (29/4) Dalam studi itu disebutkan bahwa, zat besi berperan penting dalam perkembangan sistem organ, terutama otak.
Sebelumnya diketahui beberapa faktor yang menyebabkan bayi kekurangan zat besi seperti diabetes pada ibu, kurangnya zat besi sang ibu, merokok saat kehamilan, kelahiran lebih awal, berat badan rendah pada bayi dan kehamilan ganda.
Studi yang dilakukan peneliti dari Akademi Ashkelon dan Pusat Kesehatan Barzilia di Israel dan Universitas Michigan, Amerika Serikat, merupakan yang pertama menyebutkan bahwa stres pada ibu saat awal kehamilan merupakan faktor lain yang menyebabkan kurangnya zat besi pada bayi.
Para peneliti tersebut melakukan penelitian terhadap sejumlah wanita yang akan melahirkan di Pusat Kesehatan Barzilai. Kelompok ibu hamil pertama (yang stres) hidup di wilayah dengan lebih dari 600 serangan roket dalam tiga bulan pertama kehamilannya. Sementara kelompok lain tinggal di wilayah yang sama namun pada tiga hingga empat bulan setelah serangan roket berakhir.
Para wanita tersebut diberi pertanyaan singkat saat akan melahirkan guna mendeteksi apakah mereka tetap sehat tanpa komplikasi kehamilan. Wanita yang bersedia berpartisipasi dalam studi itu kemudian diwawancara sehari atau dua hari setelah melahirkan terkait latar belakang dan kesehatan mereka selama kehamilan.
Mereka juga mengisi kuesioner tentang depresi dan kemarahan, serta menilai tingkat stres yang mereka alami ketika hamil. Sampel darah kemudian diambil dari bayi yang baru lahir, untuk mengukur tingkat zat besi yang mereka miliki dengan serum ferritin.
Hasilnya menunjukkan 63 bayi yang ibunya berada di kelompok stres secara signifikan memiliki tingkat zat besi yang lebih rendah daripada 77 bayi yang ibunya berada di kelompok lain.
"Penemuan kami mengindikasikan bahwa bayi yang ibunya stres saat hamil termasuk dalam faktor yang menyebabkan kurangnya zat besi pada anak," kata peneliti Akademi Ashkelon, Rinat Armony-Sivan.
"Wanita hamil harus sadar bahwa kesehatan, nutrisi, tingkat stres, dan pikiran mereka akan mempengaruhi kesehatan bayinya," kata Armony-Sivan mengingatkan.
Armony-Sivan menyarankan, untuk mempertimbangkan pemberian darah tambahan ketika bayi berusia 12 bulan, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan populasi berisiko tinggi, sehingga kekurangan zat besi, dengan atau tanpa gejala anemia, dapat dideteksi dan ditangani lebih awal sebelum berubah menjadi kronis dan parah.


Dikutif dari : Yahoo!She
 

Cara Tradisional Mengatasi Batuk Bagi Ibu Hamil

|0 comments
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketika batuk, perut akan bergerak naik turun, bayi akan turut merasakan batuk anda. Tak perlu khawatir, bayi tidak akan terpengaruh secara fisik. Anda cukup memegang perut bagian bawah agar perut anda tidak tegang.
Yang cukup berbahaya adalah jika batuk sampai menyebabkan lendir sehingga sulit bernafas. Ini penting diwaspadai, mungkin anda mengalami infeksi dada. Infeksi dada ini bisa mempengaruhi bayi yang sedang dikandung.
Pada dasarnya tidak ada cara untuk mencegah batuk menyerang ibu hamil. Rajin mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air panas, bisa meminimalisir resiko batuk. Ibu hamil harus hidup dengan pola makan yang  sehat dan memiliki jam tidur malam secukupnya.
Jika sudah terlanjur batuk, untuk meredakannya, bisa membuat secangkir madu yang dicampur jeruk nipis. Madu bisa menenangkan tenggoraokan yang gatal. Ramuan ini baik diminum saat panas.  Agar lebih yakin, segera temui dokter. Minta agardiberi sirup obat batuk yang terbuat dari gliserin dan sedikit gula. Obat ini bisa menghentikan batuk yang cukup parah.

Dikutif dari : Yahoo!She

Senin, 09 April 2012

Ingin Paru Paru Lebih Sehat?Rajinlah Gosok Gigi!

|0 comments
KOMPAS.com -  Rajin gosok gigi ternyata tidak hanya menjamin kesehatan mulut. Penelitian menunjukkan, gigi dan gusi yang sehat dapat menurunkan risiko pneumonia atau radang paru. Sebuah riset menunjukkan, kesehatan gusi dapat memengaruhi kesehatan sistem pernapasan.
Dalam riset yang dipublikasi Journal of Periodontology, kesehatan periodontal, yang berhubungan dengan gusi dan struktur penyokong gigi lainnya, berperan dalam sistem pernapasan yang sehat. 
Penyakit periodontal dapat meningkatkan risiko infeksi pernapasan, seperti penyakit paru-paru kronis (Chronic Obstructive Pulmonary Disease/COPD) dan radang paru-paru (pneumonia).
Studi ini melibatkan 200 relawan yang berusia antara 20 hingga 60 tahun. Setengah dari relawan adalah pasien yang dirawat karena penyakit pernapasan, seperti pneumonia, COPD, atau bronkitis akut. Setengah relawan lainnya adalah orang-orang sehat tanpa sejarah penyakit pernapasan.
Hasil penelitian menunjukkan pasien dengan penyakit pernapasan memiliki kesehatan periodontal yang lebih buruk daripada relawan yang sehat. Hal ini merupakan petunjuk awal hubungan antara penyakit pernapasan dengan penyakit periodontal.
Hal itu membuat para peneliti menduga keberadaan patogen di mulut yang berhubungan dengan penyakit periodontal kemungkinan meningkatkan risiko perkembangan penyakit pernapasan. Namun, para peneliti menegaskan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami kaitan ini.
"Penyakit paru-paru dapat sangat melumpuhkan dan melemahkan. Melalui kerjasama dengan dokter gigi atau periodontis, Anda bisa mencegah atau menghentikan perkembangan penyakit seperti pneumonia atau COPD," kata Donald S. Clem, presiden American Academy of Periodontology. Clem juga menjelaskan kalau studi ini memberikan contoh lain tentang peranan kesehatan periodontal dalam menjaga sistem lain di dalam tubuh.
Clem menekankan pentingnya perawatan mulut dengan rutin untuk membantu pencegahan penyakit periodontal. Penyakit periodontal meliputi penyakit radang kronis yang memengaruhi jaringan gusi dan struktur lain yang menyokong gigi.
"Untuk merawat kesehatan periodontal Anda dengan baik, perlu sikat gigi tiap hari. Anda seharusnya juga melakukan pemeriksaan menyeluruh setiap tahun," ujar Clem. (ScienceDaily)

Dikutif dari : health.kompas.com 
 

Stress Dapat Sebabkan Kesehatan Gigi Bermasalah

|0 comments
KOMPAS.com - Stres bukan cuma membebani pikiran tetapi juga kesehatan, salah satunya kesehatan gigi dan gusi. Hubungan yang erat antara masalah periodontal dan gangguan psikologi seperti stres, kecemasan, depresi dan kesepian itu sudah dibuktikan secara ilmiah.
Dalam laporan studi yang dimuat dalam Journal of Periodontology disebutkan, mengurangi stres sangat berarti demi kesehatan gigi dan mulut. Salah satu biang keladinya adalah kortisol, si hormon stres.
Meningkatnya level hormon kortisol bisa menyebabkan kerusakan pada gusi dan tulang rahang karena penyakit periodontal (radang gusi). Jika periodontal ini tidak ditangani bisa menyebabkan gigi tanggal, bahkan tulang rahang tegerus.
Masalah gigi dan mulut yang ditimbulkan oleh stres antara lain sariawan, kebiasaan menggertakkan gigi (bruxism), serta penyakit gusi.
"Orang yang mengalami gangguan psikologi biasanya melakukan kebiasaan tidak sehat dan malas merawat giginya yang bisa merusak gigi," kata Preston J Miller, presiden American Academy of Periodontology. Ia menyarankan kegiatan relaksasi untuk menghambat produksi kortisol.

Dikutif dari ; health.kompas.com

Bakteri Mulut Sebabkan Sakit Jantung

|0 comments
KOMPAS.com - Ada banyak bakteri yang hidup di mulut kita, salah satunya adalah Streptococcus gordonii. Sebuah riset terbaru menemukan bahwa,  bakteri Streptococcus gordonii yang masuk ke dalam aliran darah dapat menyebabkan pembekuan darah dan memicu endokarditis (peradangan pada lapisan dalam jantung).

Demikian hasil riset yang dipresentasikan para ilmuwan dari Royal College of Surgeons dalam Society for General Microbiology Spring Conference, Dublin Irlandia pekan ini.

Streptococcus gordonii merupakan jenis bakteri yang ada di dalam mulut dan memiliki kontribusi dalam pembentukan plak pada permukaan gigi. Jika bakteri itu masuk ke dalam aliran darah melalui gusi yang berdarah, mereka akan mendatangkan malapetaka dengan menyamar sebagai protein manusia.

Peneliti dari Royal College of Surgeons, Irlandia (RCSI) dan University of Bristol telah menemukan bahwa S. gordonii mampu menghasilkan molekul yang meniru fibrinogen protein manusia, dan menyebabkan penggumpalan di dalam pembuluh darah. Penggumpalan trombosit dapat menyebabkan endokarditis atau peradangan pembuluh darah yang dapat menghentikan suplai darah ke jantung dan otak.

Dr Helen Petersen, mengatakan, dengan adanya pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara bakteri dan risiko pembekuan darah, hal ini bisa membantu khususnya dalam melakukan pengobatan endokarditis infektif. Endokarditis infektif adalah infeksi pada katup-katup jantung, yang biasanya disebabkan oleh bakteri.

"Sekitar 30 persen orang dengan endokarditis infektif akan mati dan sebagian besar memerlukan operasi penggantian katup jantung yang telah terinfeksi, dengan katup yang terbuat dari logam atau hewan," kata Dr Petersen.

"Tim kami kini telah mengidentifikasi komponen-komponen dari molekul S. gordonii yang meniru fibrinogen, sehingga kita semakin dekat untuk dapat merancang senyawa baru untuk menghambatnya. Hal ini akan mencegah stimulasi pembekuan darah yang tidak diinginkan," sambung Dr Steve Kerrigan dari RCSI.

Selain itu, peneliti secara lebih luas juga turut mengamati bakteri lain pada plak gigi yang mungkin memiliki efek mirip dengan S. Gordonii. "Kami juga mencoba mempelajari sifat bakteri lain yang memiliki hubungan dengan S. gordonii. Temuan kami jelas menunjukkan betapa pentingnya untuk menjaga mulut kebersihan dan kesehatan gigi dengan menyikat gigi secara teratur," tegas Dr Petersen.

Dikutif dari : health.kompas.com
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...